Paribasa Sunda

Paribasa Sunda

Paribasa Sunda – Orang tua dulu atau dalam istilah bahasa sunda lebih dikenal dengan kolot baheula banyak ucapan ucapannya atau kata katanya lebih menunjukkan larangan atau himbanaun misalnya jangan melakukan sesuatu karena itu tidak baik, Mereka biasanya mengungkapannya dalam paribasa sunda. Paribasa Sunda sama halnya dengan peribahasa sunda atau peribahasa dalam bahasa indonesia. sobat sobat semuanya bisa baca postingan sebelumnya tentang Peribahasa Sunda atau Pepatah Sunda beserta contoh contohnya yaa.

Paribasa sunda
Paribasa sunda

Selain itu dalam paribasa sunda biasanya mengandung makna peringatan agar jangan melakukan sesuatu yang tidak terpuji atau yang bisa menimbulkan bahaya. Dari paribasa sunda mendapat gambaran tentang apa-apa yang menurut pandangan orang tua dulu atau kolot baheula kurang baik jangan dilakukan. Sebagai contoh kita mendapat hikmah bahwa orang yang lupa pada asalnya, orang yang berbuat khianat atau tidak setia, orang yang sombong dan merasa dirinya paling hebat, orang yang banyak bicara tanpa isi, orang yang mempertengkarkan sesuatu yang kosong, orang yang mengharapkan sesuatu yang belum tentu sampai melepaskan apa yang sudah didapat, orang tidak tahu membalas budi, orang yang menertawakan orang yang sedang mendapatkan musibah, orang yang serakah, orang yang berbuat kebusukan atau kejahatan, orang yang tak tahu akan manfaat apa yang dimiliknya dan masih banyak lagi makna yang terkandung dari paribasa sunda tersebut.

Perlu diketahui sobat sobat semua Paribasa Sunda itu banyak sekali macamnya. sehingga admin tidak mungkin ngepost semuanya. admin hanya mencantumkan contoh paribasa sunda sebagian kecil saja, sebagai gambaran untuk sobat sobat semua untuk mengetahui makna dari paribasa sunda tersebut yaa. Selain makna yang mengandung larangan dari pandangan orang tua dulu. Paribasa Sunda juga bisa mengandung hal hal yang di anjurkan yang sampai jaman sekarang bisa di pakai sebagai renungan untuk menjalankan roda kehidupan kita semua yaa.

Berikut admin kasih contoh contoh dari paribasa sunda

1. Kokoro manggih mulud, puasa manggih lebaran.

Terjemahannya: Orang melarat bermuludan, orang puasa berlebaran. Peribahasa tersebut digunakan untuk menyebut yang ajimungpung, serakah dan tidak tahu batas. Nilai ini bersesuaian dengan Islam yang menganjurkan agar orang tahu batas, atau mengambil jalan tengah (bukan yang ekstrim).

2. Manuk hiber ku jangjangna.

Terjemahannya: Burung terbang memakai sayapnya, manusia dengan akalnya.

3. Jauh ka bedug.

Terjemahannya: Jauh dari mesjid karena mesjidlah yang mempunyai bedug. Artinya orang yang hidup jauh dari kota. Biasanya dipakai mengejek orang kampung, atau orang yang tidak tahu kehidupan kota. Dalam peribahasa ini tak ada nilai yang Islami, karena biasanya hanya dipakai untuk mengejek saja.

4. Lewi jero beunang diteuleuman, hate jelema deet henteu kakobet.

Terjemahannya: Lubuk dalam dapat diselami, hati manusia meski dangkal tak dapat diketahui. Peribahasa ini dipakai untuk menggambarkan bahwa kalbu manusia itu merupakan rahasia yang tertutup bagi manusia yang lain. Saya kira peribahasa ini sesuai dengan pandangan Islam.

5. Rup ku padung rap ku lemah.

Terjemahannya: Ditutup dengan padung, diurug dengan tanah. Maksudnya menggambarkan manusia yang masuk ke dalam kubur, ditutup dengan kayu padung dan kemudian diurug dengan tanah. Biasanya dipakai untuk menyatakan bahwa sampai mati dan dikuburkan, dia takkan lupa akan kebaikan atau hal yang dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya.

6. Babalik pikir.

Terjemahannya: Sadar atau insap dari perbuatan yang buruk dan melakukan perbuatan yang baik.

7. Mun teu ngarah moal ngarih, mun teun ngakal moal ngakeul, mun teu ngoprek moal nyapek.

Kalau tidak berusaha takkan mungkin mengangi nasi, kalau tidak menggunakan akal nanti takkan menanak nasi; kalau tidak bekerja takkan mungkin bisa makan. Artinya sejalan dengan nomor 2, tetapi sesuai dengan ajaran Islam, lebih menekankan tentang pentingnya ikhtiar.

8. Dihin pinasti anyar pinanggih.

Terjemahannya: Nasib sudah dipastikan sejak awal, namun baru sekarang dialami. Kepercayaan akan adanya takdir yang sudah ditetapkan sejak awal baru kemudian dialami.

9. Mulih ka jati mulang ka asal.

Terjemahannya: Kembali ke tempat asal. Artinya: Meninggal dunia. Kadang-kadang dipakai istilah mulih ka rahmatullah atau mulih ka kalanggengan, yaitu pulang ke rahmatullah atau pulang ke tempat yang langgeng. Konsep ini sangat Islami karena menurut pandangan Islam manusia setelah meninggal kembali ke tempat asalnya: hadirat Allah Swt., rahmatullah. Innalillah wa inna ilaihi roji’un.

10. Kokoro nyoso, malarat rosa, Lebaran teu meuncit hayam.

Terjemahannya: Sangat miskin, sangat melarat, sehingga pada hari Lebaran tak mampu menyembelih ayam. Dalam masyarakat Sunda, pada hari Lebaran orang biasanya mengadakan selamatan dengan memasak makanan yang lebih dari biasa. Paling tidak memotong ayam. Tapi orang yang dimaksud karena melaratnya tak mampu menyembelih ayam sekalipun, sehingga tak dapat mengantarkan kiriman Lebaran kepada orang tua atau tetangganya.

11. Mulih ka jati, mulang ka asal.

Terjemahannya: Mengambil barang atau memetik tanaman tanpa meminta izin lebih dahulu kepada yang punya. Nilai ini sangat Islami, karena mengambil sesuatu tanpa seizin yang punya sama saja dengan mencuri.

12. Dikungkung teu diawur, dicangcang teu diparaban.

Terjemahannya: Dikurung tak dikasih makanan, diikat tak diberi makan. Biasanya dipakai untuk menyebut isteri yang oleh suaminya tidak dipedulikan lagi, tetapi tidak juga ditalak. Karena ada urusannya dengan pernikahan niscaya ada hubungannya dengan hukum Islam.

13. Hirup nuhun, paeh rampes.

Terjemahannya: Hidup syukur, mati pun baik. Orang yang sudah pasrah, menyerahkan hidup ataupun matinya kepada Yang Mahakuasa. Tidak lagi mempunyai keinginan.

14. Ngalebur tapak.

Terjemahannya: Menghilangkan jejak lama. Taubat. Sama artinya dengan nomor 6.

15. Umur gagaduhan, banda sasampiran.

Terjemahannya: Umur dan harta benda bukanlah milik sendiri. Dipakai untuk menyatakan bahwa hidupnya sendiri bukan miliknya, karena ada Tuhan Yang Mahakuasa. Peribahasa ini sejalan dengan yang berikut.

16. Hirup di dunya wawayangan.

Terjemahannya: Hidup di dunia itu seperti wayang (yang digerakkan oleh dalang). Sesuai dengan ajaran Islam yang menganggap manusia tak berdaya-upaya melainkan dengan kehendak Allah. La haula wa laa quwatta, ila billahi aliyul adzim.

17. Rejeki tara pahili, bagja teu paala-ala.

Terjemahannya: Rizki atau takdir orang itu sudah ditentukan sejak awal, sehingga takkan tertukar dengan takdir orang lain. Tuhanlah yang menentukannya. Maka orang harus menerima dengan sabar apa pun atau berapa unsur pun rizki yang diperolehnya.

18. Datang katembong tarang, undur katembong punduk.

Terjemahannya: Waktu datang memperlihatkan dahi, waktu pulang memperlihatkan bahu (punduk). Etika kalau berkunjung ke rumah orang harus menemui si empunya rumah begitu pula pada waktu pulang harus menemuinya dahulu. Sesuai dengan etika Islam yang mengharuskan orang berlaku sopan dan mengucapkan salam waktu berkunjung ke rumah orang begitu juga sebelum pergi meninggalkannya harus menyampaikan salam pula.

19. Pondok jodo panjang baraya.

Terjemahannya: Meskipun jodoh pendek, tetapi persaudaraan haruslah tetap diperlihara. Sesuai dengan ajaran Islam yang menjaga silaturahmi.

20. Adam lali tapel,

artinya orang yang lupa kepada asalnya, tak ingat akan sanak-saudaranya sendiri.

21. Ati mungkir, beungeut nyanghareup,

artinya meskipun nampak seperti setia namun tidaklah demikian dalam hatinya. Dikatakan kepada orang yang menjadi bawahan orang lain.

22. Asa aing uyah kidul,

artinya angkuh, sombong, merasa paling hebat seperti garam dari lautan selatan dianggap lebih asin daripada garam yang dibuat di lautan lain.

23. Lodong kosong ngelentrung,

artinya tong kosong nyaring bunyinya.

24. Marebutkan balung tanpa eusi, sama dengan marebutkeun paisan kosong.

Artinya memperebutkan sesuatu yang tak ada gunanya.

25. Moro julang ngaleupaskeun peusing.

Artinya untuk memperoleh sesuatu yang belum tentu, melepaskan barang yang sudah di tangan.

26. Nu asih dipulang sengit, nu nyaah dipulang moha.

Artinya membahas kebaikan dengan keburukan. Air susu dibalas dengan air tuba.

27. Nu titeuleum disimbeuhan.

Artinya meledek atau menertawakan orang yang sedang ditimpa kemalangan.

28. Ngarawu ku siku.

Artinya karena serakah ingin mendapatkan sebanyak-banyaknya malah hanya memperoleh sedikit.

29. Sabuni-buni nu ngising.

Artinya orang yang berbuat kejahatan atau melakukan perbuatan yang tidak baik, akhirnya nisca akan diketahui juga.

30. Monyet ngagugulung kalapa.

Artinya menunjuk kepada orang yang memiliki sesuatu yang berharga tetapi ia sendiri tidak dapat mengambil manfaat daripada miliknya itu.

31. Nyalindung ka gelung,

dikatakan kepada laki-laki yang menikah dengan wanita kaya sehingga ia tidak usah mencari nafkah lagi. Biasanya wanitanya lebih tua daripada si laki-laki.

32. Agul ku payung butut.

Artinya membangga-banggakan keturunan yang sebenarnya sudah tidak ada artinya lagi.

33. Ngijing sila bengkok sembah.

Artinya hampir sama dengan ati mungkir beungeut nyanghareup, dipakai untuk menyebut orang yang tidak setia atau sungguh-sungguh menjalankan perintah majikannya.

34. Gindi pikir belang bayah.

Artinya tidak mempunyai hati yang tulus, selalu hendak mencelakakan orang lain.

35. Goong nabeuh maneh.

Artinya gemar menceritakan keunggulan dirinya sendiri di depan orang lain. Menyombongkan perbuatan sendiri.

36. Kandel kulit beungeut.

Artinya tak tahu malu. Muka badak.

37. Luncat mulang.

Artinya perkataannya tak dapat dipegang sebab sering berubah. Lompatannya bolakbalik.

38. Ka bawa ku sakaba-kaba.

Artinya ikut melakukan perbuatan jelek karena ikut-ikutan orang lain.

39. Pindah pileumpangan.

Artinya berubah adat karena naik kedudukan atau menjadi kaya, yang tadinya ramah terhadap orang kecil, menjadi sombong, dan lain-lain.

40. Elmu ajug.

Artinya orang yang gemar memberi keterangan kepada orang lain mengenai sesuatu kebaikan tetapi dia sendiri tidak melakukannya.

41. Cul dogdog tinggal igel.

Artinya meninggalkan garapan yang utama karena tergiur oleh yang kurang penting. Didasarkan dari perminan reog atau ogel, yang setiap permainannya membawa dogdog yang dipukulnya sepanjang permainan dan orang menari seirama dengan pukulan dogdog itu. Tapi kadang-kadang karena asyik menari, ada pemain yang menaruh dogdog-nya.

42. Pagirang-girang tampian.

Artinya semua orang tidak ada yang mau mengalah, karena ingin mandi atau mencuci di tepian yang paling hulu, dengan demikian ia mendapat air yang bersih, sedangkan orang lain terpaksa memakai air yang sudah digunakan.

43. Cara kuda lepas ti gedogan.

Artinya orang yang keluar dari tempatnya lalu melakukan apa saja yang dia kehendaki tanpa memperhatikan aturan lagi.

44. Nyieun pucuk ti girang.

Artinya orang yang berbuat sesuatu untuk melakukan pertengkaran dengan yang lain.

Semoga contoh contoh dari paribasa sunda bermanfat bagi sobat sobat semuanya…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.